Thursday, September 20, 2012

Drama Kerajaan Singasari

Di suatu hari, Raja Tunggul Ametung harus meninggalkan istrinya Ken Dedes dengan kondisi yg sedang hamil.
Tunggul Ametung: Istriku, maaf aku harus meninggalkanmu, tapi aku janji aku pasti akan kembali lagi
Ken Dedes: Tidak apa-apa suamiku, aku akan selalu menunggumu
Tunggul Ametung: Baiklah, terima kasih istriku, aku sayang kamu
Ken Dedes: Aku juga sayang kamu, cepat pulang ya suamiku
                Akhirnya Tunggul Ametung meninggalkan Ken Dedes. Usia kandungan Ken Dedes juga semakin besar. Suatu hari, Ken Dedes pergi ke sebuah hutan untuk mencari buah apel jambu. Di hutan tersebut Ken Dedes bertemu dengan seorang pemuda yg tampan dan gagah perkasa. Tidak disengaja, mereka berdua bertabrakan.
Ken Arok: Tuan putri, anda tidak apa-apa?
Ken Dedes: Tidak apa-apa, terima kasih telah menolongku
Ken Arok: Kenapa berterima kasih, seharusnya hamba yg harus minta maaf
Ken Dedes: Sudahlah lupakan saja, sedang apa gerangan di hutan ini?
Ken Arok: Saya sedang mencari pekerjaan tuan putri
Ken Dedes: Pas sekali, kerajaan saya sedang mencari orang untuk bekerja
Ken Arok: Benarkah tuan putri
Ken Dedes: Benar pemuda, besok datang saja ke kerajaan saya
Ken Arok: Baiklah, terima kasih tuan putri, ngomong-ngomong, nama tuan putri siapa?
Ken Dedes: Namaku Ken Dedes, siapa namamu?
Ken Arok: Nama yg cantik, nama saya Ken Arok, baiklah, saya tidak bisa berlama” disini
Ken Dedes: Baiklah, sampai jumpa besok
                Ken Arok pulang dengan hati yg senang karena bisa mendapatkan pekerjaan. Bukan itu saja, hati dia pun sedikit bergejolak karena bisa bertemu dengan seorang putri yg cantik dan baik pula. Hal itu diceritakan oleh Ken Arok kepada Dang Hyang Lohgawe.
Ken Arok: Dang Hyang Lohgawe, aku ada berita baik yg harus aku ceritakan
Dang Hyang Lohgawe: Apa itu Ken Arok, sepertinya kau sangat bergembira sekali
Ken Arok: Aku mendapatkan pekerjaan di sebuah kerajaan, tapi bukan itu saja
Dang Hyang Lohgawe: Terus apalagi Ken Arok? Aku tidak sabar mendengarnya
Ken Arok: Aku bertemu dengan seorang wanita yg cantik sekali, sepertinya dia seorang ratu
Dang Hyang Lohgawe: Siapa namanya Ken Arok? Apa ada wanita seperti itu?
Ken Arok: Nama dia Ken Dedes wahai Dang Hyang Lohgawe
Dang Hyang Lohgawe: Astaga, dia adalah istri dari Raja Tunggul Ametung
Ken Arok: Aku tidak peduli dia istri siapa, yg penting aku harus bisa mendapatkan dia
Dang Hyang Lohgawe: Yasudahlah Ken Arok, semoga kau bisa mendapatkannya
                Singkat cerita, Ken Arok berhasil menjadi patih dikerajaan Ken Dedes, dan teryata, bukan hanya Ken Arok yg mencintai Ken Dedes, tetapi Ken Dedes juga mencintai Ken Arok. Cinta terlarang itu terus berjalan lama, dan sampai akhinya, Tunggul Ametung pulang dan belum mengetahui apapun. Dengan kembalinya Tunggul Ametung, Ken Arok berniat untuk membunuh Tunggul Ametung. Disuatu hari, Ken Arok pergi kerumah Mpu Gandring untuk membuat keris.
Ken Arok: Ki Mpu, tolong buatkanlah keris yg hebat, semoga bisa selesai dalam 5 bulan
Mpu Gandring: Tapi Ken Arok, waktu untuk membuat keris adalah satu tahun
Ken Arok: Saya tidak peduli, pokoknya dalam 5 bulan keris itu harus selesai!
Mpu Gandring: Baiklah Ken Arok, aku akan menuruti permintaanmu
5 bulan kemudian, sesuai janjinya Ken Arok pergi kembali ke rumah Mpu Gandring. Dan ternyata keris pesanan Ken Arok belum selesai juga.
Ken Arok: Mpu Gandring, mana keris saya?
Mpu Gandring: Kerismu ini yg sedang aku pahat Ken Arok
Ken Arok: Jadi kamu belum menyelesaikannya? Dasar kau!
                Ken Arok mengambil keris yg belum sempurna itu. Dengan amarahnya, Ken Arok membunuh Mpu Gandring dengan keris yg belum selesai itu. Sebelum meninggal, Mpu Gandring menyampaikan pesan terkhirnya.
Mpu Gandring: Ken Arok, besok kau sendiri pun akan mati oleh keris itu juga. Anak dan cucu-cucumu, tujuh orang raja akan meninggal pula dengan senjata yang sama
                Akhirnya Mpu Gandring meninggal dunia. Mendengar perkataan itu, Ken Arok sedikit takut. Pada suatu malam, Tunggul Ametung memanggil Ken Arok karena ada perihal kerajaan yg harus disampaikan. Disisi lain, Ken Arok bersiasat untuk membunuh Tunggul Ametung
Tunggul Ametung: Ken Arok, kemarilah
Ken Arok: Iya yang mulia, ada apa tuan memanggil hamba?
Tunggul Ametung: Kau adalah orang yg sangat aku percaya, jangan kecewakan aku
Ken Arok: Baik yang mulia
                Ken Arok bersiap untuk membunuh Tunggul Ametung. Di luar ada 3 selir yg sedang berjalan di depan ruangan Tunggul Ametung dan Ken Arok berada. Akhirnya Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung, tapi pembunuhan itu terlihat oleh salah satu selir yg lewat.
                Beberapa bulan setelah kasus itu, Ken Arok diangkat menjadi raja dan berhasil memperistri Ken Dedes. Singkat cerita, Ken Arok juga memperistri Ken Umang, salah satu selir kerajaan. Dimasa itu, Ken Dedes melahirkan anak dari Tunggul Ametung, dia adalah Anusapati, anak yg cerdas dan berwibawa. Dan pada suatu hari, selir yg melihat pembunuhan yg dilakukan Ken Arok menceritakan semuanya kepada Anusapati.
Selir: Anusapati, sini nak
Anusapati: Apa? Dimana ayah?
Selir: Ayahmu sudah tiada nak
Anusapati: Jangan becanda, eh itu dia ayahku
Selir: Ken Arok bukan ayahmu nak, dia hanya ayah angkatmu
Anusapati: Jadi siapa ayahku yg sebenarnya
Selir: Ayahmu adalah Tunggul Ametung
Anusapati: Tunggul Ametung? Dia kan sudah mati
Seir: Iya itu benar, dan yg membunuh Tunggul Ametung adalah Ken Arok!
Ken Arok: Apa? Ken Arok membunuh ayahku? Awas kau Ken Arok, aku akan membunuhmu!
                Waktu semakin berlalu dan akhirnya Anusapati bersiap membalas dendam apa yg telah Ken Arok kepada ayahnya. Anusapati mencuri keris yg dipakai Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung. Dan akhirnya waktu itu tiba.
Anusapati: Ken Arok!
Ken Arok: Ada apa nak?
Anusapati: Jangan panggil aku anak! Dasar manusia biadab!
                Anusapati langsung membunuh Ken Arok. Ternyata kutukan Mpu Gandring benar, Ken Arok terbunuh oleh kerisnya sendiri dari tangan anak angkatnya. Setelah kematian Ken Arok, Anusapati diangkat menjadi Raja Singasari.
                Waktu telah berlalu, anak dari Ken Arok dan Ken Umang pun lahir, dia adalah Tohjaya. Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati membunuh ayahnya. Dia pun melancarkan siasatnya untuk membalas dendam kematian Ken Arok.
                Karena Tohjaya mengetahui kegemaran Anusapati yg tidak lain adalah menyabung ayam, dia mengundang Anusapati untuk menghadiri pertandingan sabung ayam di kediaman Tohjaya.
Tohjaya: Anusapati, aku akan membalas dendam atas kematian ayahku! Nyawa dibayar nyawa!
                Dengan dendam yg membara, akhirnya Tohjaya hadir ketempat sabung ayam. Disana juga ada Anusapati yg sedang menyabung ayam. Karena keadaan lengah, keris yg dibawa Anusapati berhasil diambiloleh Tohjaya dan Tohjaya membunuh Anusapati dari belakang oleh keris Mpu Gandring.
                Setelah kematian Anusapati, Tohjaya diangkat menjadi Raja Singasri selanjutnya. Tapi saat dia memerintah, Ranggawuni yg meruapakan anak Anusapati yg dibantu oleh Mahesa Cempaka yg merupakan anak dari Mahesa Wong Ateleng ingin membalas dendam perbuatan Tohjaya.
                Akhirnya terjadi sebuah perang saudara antara Ranggawuni dan Tohjaya. Karena pasukan Ranggawuni sedikit, Tohjaya hampir menang dalam peprangan tersebut.
Tohjaya: Cari Ranggawuni dan Mahesa Cempaka wahai Lembu Ampal dan bunuh mereka
Lembu Ampal: Baik yg mulia, aku dan pasukanku akan membunuh mereka
                Ditengah perjalanan Lembu Ampal sadar bahwa yg berhak atas tahta kerajaan sebenarya dalah Ranggawuni yg merupakan cucu dari Tunggul Ametung. Akhirnya pasukan Ranggawuni ditambah pasukan Lembu Ampal kembali ketempat Tohjaya.
Tohjaya: Lembu Ampal, apa yg kau lakukan? Apa kau telah membunuh Ranggawuni?
Ranggawuni: Aku masih hidup Tohjaya
Tohjaya: Apa? Kenapa kau tidak membunuhnya Lembu Ampal?
Lembu Ampal: Tahta kerajaan seharusnya milik Ranggawuni, kau tidak berhak!
Tohjaya: Apa yg kau bicarakan Lembu Ampal? Dasar pengkhianat!
Ranggawuni: Apa yg dia katakan benar, kau tidak berhak menjadi raja
Tohjaya: Diam kau Ranggawuni! Aku yg akan membunuhmu
                Akhirnya perang terjadi dan Tohjaya kalah dengan Keris Mpu Gandring tertancap di dadanya. Setelah itu, Ranggawuni naik tahta dengan gelar Sri Jaya Wisnudharma dibantu oleh Mahesa Cempaka dengan gelar Narasighamurti.
                Pada tahun 1254M, Wisnudharma mengangkat putranya sebagai Yuvaraja atau raja muda dengan maksud untuk mempersiapkan putranya yg bernama Kertanegara menjadi seorang raja besar di Singasari.
Karena Wisnudharma sakit keras, akhirnya pada tahun 1268M Kertanegara menjadi raja terakhir di kerajaan Singasari. Kertanagara adalah raja terakhir dan Raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Singosari (1268 - 1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Saat itu penguasa Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya dianggap telah ditundukkan, dengan dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari Kerajaan Singosari, sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Kerajaan Singosari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara. Kitab Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Kerajaan Singosari di luar Jawa pada masa Raja Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.
Kerajaan Singosari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang (Bupati Gelang-Gelang), yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Raja Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu Raja Kertanagara mati terbunuh Sedangkan Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Raja Kertanagara, lolos dari maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit..
Setelah runtuhnya Kerajaan Singosari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singosari pun berakhir.

0 comments :

Post a Comment